Cari Rumah di Bintaro Jakarta? Klik www.properti99.com
Akhir-akhir ini lagi seneng-senengnya dengan yang namanya dinar dan segala sesuatu tentang dinar. Kali ini, saya ingin menulis tentang dinar sebagai salah satu alat investasi, terinspirasi dari tulisan M. Iqbal di gerai dinar.
Akhir-akhir ini lagi seneng-senengnya dengan yang namanya dinar dan segala sesuatu tentang dinar. Kali ini, saya ingin menulis tentang dinar sebagai salah satu alat investasi, terinspirasi dari tulisan M. Iqbal di gerai dinar.
Banyak alat instrumen investasi yang
sering digunakan oleh masyarakat dan termasuk kita untuk berinvestasi.
Misalnya: tanah, emas, rumah, asuransi unit-link, deposito, saham,
obligasi (syariah dan konvensional), reksadana, dsb. Namun belum banyak
yang mengetahui bahwa dinar (koin dinar emas) merupakan salah satu
instrumen investasi.
Dinar menjadi salah satu alat investasi
yang patut diperhitungkan, mengingat nilainya yang terus ter-apresiasi
terhadap dollar dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Bisa saja kita
menggunakan perpaduan dari keseluruhan instrumen investasi tersebut,
jika memang kita memiliki kelebihan dana. Namun jika diperbandingkan,
maka investasi dalam dinar merupakan yang paling menguntungkan dan
mendapat nilai tambah secara syari’ah.
Misalnya saja perbandingan antara
asuransi, deposito, dan dinar, seperti analisis yang dilakukan oleh M.
Iqbal dalam Gerai Dinar. Taruhlah kita investasikan Rp 500.000/ bulan,
untuk masing-masing instrumen investasi tersebut, selama 20 tahun. Maka
analisisnya sebagai berikut:
Asuransi (unit-link): dengan
hasil investasi 12% per tahun, maka setelah 20 tahun kita menaruh uang
di asuransi tersebut, uang kita menjadi Rp 162 juta. Pada asuransi ini,
uang kita ada yang “disedot” untuk biaya akuisisi, atau biaya
administrasi yang lumayan besar dari premi yang kita bayarkan setiap
bulannya. Namun, kelebihannya ada nilai proteksi yang diberikan dari
asuransi ini.
Hal ini tepat sekali, karena saya
mengalaminya sendiri, uang yang saya bayarkan sebagai premi, akan sesuai
dengan nilai akumulasi yang saya bayarkan, yaitu ketika polis tersebut
berusia 11 tahun (ini di asuransi terkenal di dunia apalagi di
Indonesia, pada unit syari’ahnya).
Deposito: dengan hasil
investasi 8% per tahun, maka setelah 20 tahun, uang kita akan menjadi Rp
224 juta. Lebih besar dari asuransi, karena di deposito tidak ada biaya
akuisisi seperti di asuransi. Namun, deposito tidak memiliki nilai
proteksi.
Dinar: dengan rata-rata
apresiasi nilai emas per tahun dari statistik 40 tahun Kitco, yaitu 31%
per tahun. Maka setelah 20 tahun, uang kita menjadi Rp 4,1 Milyar.
Sangat jauh berbeda dengan dua instrumen sebelumnya. Insya Allah, inilah
alat investasi yang terbaik setelah investasi akhirat dan investasi
pada sektor riil yang dikelola dengan baik.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar